Namaku anggi. Aku baru menduduki
kelas 2 SMA.Dulu,aku sangat dimanja papa dan mama.Tidurpun masih ditemani
apabila aku sedang mimpi buruk atau lampu dikamarku padam.Walau aku sudah
mempunyai 2 orang adik yang sudah beranjak remaja,namun perhatian papa dan mama
tidak pernah berkurang terhadapku.Itu karna sejak menduduki bangku Sekolah
Dasar prestasiku tidak pernah mengecewakan.aku selalu mendapat peringkat 3
besar di kelas.Tidak hanya itu,aku sering di ikut sertakan dalam perlombaan
musik,melukis,dan beberapa olimpiade MIPA.
Aku bukan type anak yang pandai bergaul.Tak heran mengapa aku jarang keluar
rumah seperti teman-temanku kebanyakan.Teman-temankupun bisa dihitung,bahkan
papa dan mama sudah menghafalnya.itu sebabnya papa dan mama memberikan
kepercayaan penuh terhadapku.
Ketika lulus Sekolah Menengah
Pertama,aku langsung meminta izin pada papa agar di sekolahkan di luar kota.
Dengan berat akhirnya papa mengizinkanku. Dengan syarat aku harus tinggal
dengan omma. Akupun menyetujuinya.
Disekolahku yang baru,aku
mendapatkan banyak teman. Entah karna wajahku yang manis orang-orang ingin
mendekatiku atau memang tulus ingin berteman denganku. Ommapun senang dan
mendukungku. Memberikanku waktu untuk berakhir pekan dengan teman-teman dengan
jalan-jalan ke mall atau sekedar nonton ke bioskop. “itu akan menambah
pengalamanmu” ucapnya.
Dan disinilah semuanya
bermula. Aku mengenal seorang laki-laki bernama Reza. Dia kakak kelasku. Ketika
baru memasuki sekolah ini,dia sudah menduduki kelas 3 SMA. Aku menyukainya
karna ia tidak seperti kakak kakak kelasku yang lain. Apabila semua ingin
berkenalan denganku maka ia hanya akan mengacuhkanku. Selain itu,ia juga pandai
bermain music,sama seperetiku.
Namun karna aku belum
berani berkenalan dengan laki-laki,maka aku hanya dapat memandang wajahnya dari
jauh tanpa ada yang mengetahui. Dari sanalah aku mengetahui bahwa Reza adalah
anak yang sederhana,baik dan pintar. Dia mendapat kelas exel di angkatannya.
Disaat yang sama,aku juga
mengenal seorang pria bernama Rian. Dia juga kakak kelasku,namun satu angkatan
lebih tinggi dariku. Aku mengenalnya karna kita mengikuti ekstrakulikuler yang sama. Dia lawan dari sifat Reza yang kusuka.
Dia sering mengejek ataupun menertawakanku. Rian adalah salah satu cowok
populer di sekolahku. Banyak wanita yang menyukainya. Tidak terkecuali
teman-temanku.
“aku heran mengapa wanita-wanita bodoh itu menyukaimu” kataku ketika dia dengan
sengaja meneriaki namaku dengan sebutan bebek buruk rupa.
“suatu saat kau akan tau aura yang terpancar dari wajahku” ucapnya sambil
tertawa dan berlalu.
Aku hanya dapat mengelus dada dan berharap ada sebuah batu raksasa yang menimpa
kepalanya agar selamanya ia hilang ingatan dan menjauhiku.
Sepulang sekolah,aku duduk
di bawah pohon dekat gerbang sekolah. Aku menunggu mang ujang,supir ommaku
datang.’hh ini sudah 1 jam’ ucapku.tanpa kusadari seseorang telah melempariku
dengan batu.
“Aduh,, hey siapa itu??”
tiba-tiba wajah seseorang yang tak ingin ku lihat muncul. “aku, hehee. Sedang
apa kau disini?”
“Kau… mau apa? Sedang apa kau di atas
pohon itu?”
“Disana tempat istirahatku”katanya sambil menunjuk sebuah ayunan yang tergantung
di atas pohon besar itu.
“Oohh aku semakin heran mengapa teman-temanku amat menyukai orang aneh
sepertimu. Apa bagusnya laki-laki yang suka bergelantung di atas pohon.
Hahahaa” ucapku. Namun aku langsung terdiam melihat ekspresi wajahnya yang diam
tanpa perlawanan. ‘tidak seperti biasanya’ ucapku dalam hati.
“Kau benar, aku memang tidak ada bagusnya. Aku juga heran mengapa gadis-gadis
itu menyukaiku. Andai dia tau bagaimana aku sebenarnya maka dia tak akan pernah
menginginkanku.”
“ Aku minta maaf, bukan itu maksudku. Aku…” kata-kataku terputus karna tak tau
lagi harus berkata apa.
“Ayah dan ibuku sering bertengkar. Mereka tidak menyayangiku. Yang ada dalam
fikiran mereka hanya uang. Aku kasihan dengan kedua adikku,mereka kekurangan
kasih sayang orangtua. Yang orangtuaku lakukan setiap hari hanya bertengkar.tak
jarang papaku sering memukuli mama di depanku dan adik-adikku. Itu membuatku
tak tahan berada di rumah dan memilih diam disini.”katanya sambil memaksakan
sebuah senyum dari bibirnya.
“Aku… minta maaf..” kataku menundukkan kepala tanda penyesalan.
“Taka apa” katanya sambil tersenyum. Aku sering mengejekmu karna aku merasa
kesepian. Temanku tak banyak,aku takut mereka mengetahui keadaanku yang
sebenarnya dan menjauhiku. Aku tak tau mengapa harus bercerita padamu.”
Ucapnya.
“Oohh taka pa,kau bisa mempercayaiku”. Kataku memaksakan sebuah senyum. Di lain
hati,aku merasa kasihan padanya. Ternyata,dibalik kepopulerannya ia menyimpan
luka yang amat menyakitinya.
“Kau mau pulang? Mau ku antar? Tunggu,aku akan mengambil mobilku”.
“tidak usah..” kataku cepat. Bersamaan dengan itu,mang ujang datang
menjemputku. “Jemputanku sudah datang” kataku.
“Baiklah kalau begitu,hati-hati di jalan…” ucapnya sambil melambaikan tangan
dan tersenyum ketika mobil yang kutumpangi berjalan. Di dalam mobil mang ujang
meminta maaf karna ia harus mengantarkan istrinya bersalin ke rumah sakit
sewaktu akan menjemputku. Dan aku berkata tak akan melaporkannya pada omma.
“Aku pulang…”
“Sudah pulang? Ayo makan.. omma sudah menyiapkan makanan untukmu di meja
makan”.ucap omma
“Terima kasih omma..”kataku sembari menuju ke meja makan.
“Tadi ada teman yang mencarimu,manis lhoo.. omma suka melihatnya. Kelihatannya
baik.
apa dia temanmu??”
“Siapa omma??”tanyaku heran sambil menyantap makananku.
“Kalau tidak salah namanya Reza, katanya ada perlu”.
“APA????????”. Semua makanan yang ada dalam mulutku berhamburan keluar.
“Ya ampuun..cucu omma jorok.. cepat bersihkan mulutmu. Itu,dia meninggalkan
nomor telfonnya. Omma taruh di atas meja”.
“TERIMA KASIH OMMAAA!!!!!” teriakku sambil memeluk omma yang heran melihat
tingkahku.
Malamnya aku tidak bisa tidur.
Aku menceritakan semua kejadian tadi siang pada sahabat baikku cindy. Cindypun
senang dan menyuruhku segera menghubunginya. “siapa tau ada sesuatu yang
penting. Ini kesempatan. Cepat hubungi dia..”. “oke oke” jawabku dan mematikan
telfon.Baru saja aku mematikan telfon,sebuah message datang dan mengagetkanku.
‘Anggi?’
‘Ya.’ Jawabku singkat.
‘Ini reza. Tadi aku sudah ke rumahmu. Tapi kamu belum pulang dari sekolah.sibuk
ada kegiatan?’
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” teriakku membuat omma kaget dan menghampiriku ke
kamar.
Begitu seterusnya hingga
larut malam. Ternyata Reza menghubungiku karna ingin menanyakan tentang
kegiatan ekstrakulikuler yang aku ikuti,dan akan meliputnya dalam majalah
sekolah. Walau begitu aku merasa sangat senang.
“Hey bebek buruk rupa, kau kelihatan ceria pagi ini”.
hhh dia lagi pikirku. “Jangan rusak hariku”. Kataku ketus sambil berlalu.
“Aku ingin memberimu ini” katanya sambil memberikan sebuah undangan.
“Apa ini?” tanyaku heran.
“Nanti malam ulang tahunku. Datanglah, aku sudah mengundangmu.”
“Nenekku tidak akan memberiku izin”
jawabku asal
“Baiklah,maka akan ku jemput” katanya sambil berlalu begitu saja.”Jam 8..
berdandanlah yang cantik agar tidak mempermalukanku” .
hah?? Apa?? Dia bilang apa?? “Hey..
kau!! Apa kau sebenarnya?? Mengapa begitu menyebalkan?? Aku membencimu!!!!!!!!”
kataku berteriak namun ia tidak mempedulikannya.
Sesampainya dikelas
cindy langsung menghampiriku. “kau kenapa??” tanyanya.
aku hanya cemberut dan rasanya ingin menangis. Aku menceritakan semuanya pada
cindy, diapun menyurhku untuk bersabar dan tetap tenang menghadapi laki-laki
itu.
malamnya,setelah makan malam buru-buru aku masuk ke dalam kamar dan memberitau
omma aku akan belajar.
“Tapi ini kan malam minggu anggi.. temani omma menonton tv..” teriak omma dari
bawah.
tapi aku tak menghiraukannya dan lekas naik menuju kamarku.
bbiipp…biipp… lagu a little too not over
you berbunyi di hpku.
“Hallo??” jawabku
“Hey bebek buruk rupa,aku sudah di depan rumahmu. Ayo keluar!”.
“Kau meninggalkan pestamu?? Mengapa menjemputku?? Omma tidak mengizinkanku
keluar malam ini”.
“Ini ommamu” terdengar Rian memberikan handphonenya pada orang lain.
Hhallo sayang.. temanmu di bawah,, ayo keluar. Katanya kalian ada acara..”.
‘sial’ ucapku dalam hati ‘dasar bebek gila!’. “Hehee iya omma.. anggi turun.”
Dalam perjalanan aku hanya cemberut karna kesal terhadapnya.
“Aku akan menunjukkan sesuatu padamu”.
“Apa?” kataku. “Kau sudah cukup menyusahkanku. Jangan menyusahkanku lebih
jauh”.
“Lihat saja nanti.” Ucapnya sambil tersenyum.
Sesampainya
disana,aku amat terkejut. Semua keluarga dan teman-temannya sudah berkumpul.
Bahkan memberikan tepuk tangan yang meriah ketika melihatku dan Rian memasuki
ruangan pesta.
“Apa ini??” tanyaku.
“Kejutan untukmu” jawabnya sambil agar
isyarat semua teman-teman dan keluarganya berkumpul. Itu membuatku semakin
panik. Tanpa ku sangka, ia berlurtut di hadapanku dan mengatakan “Anggi, would you be my girl friend??”
“Hah????”tanyaku kaget. Seperti petir di siang hari,apa otak anak ini sudah
benar-benar gila?? Fikirku.
“Aku tau kau tidak menyukaiku,aku tau perlakuanku terhadapmu amat buruk, tapi
izinkan aku menghiasi hidupmu. Agar aku selalu dapat menjagamu.”
“Aku.. aku..” aku tak bisa berkata apa-apa. Aku tak menyukainya, itu benar. Aku
menyukai orang lain. Buakn dia!! Tapi akankah aku menolaknya dan
mempermalukannya di depan keluarga dan teman-temannya seperti ini??
Dan akhirnya,dengan sangat terpaksa aku menjawab “Ya,aku bersedia”.
dan itu membuatnya terlihat amat bahagia. Sekaligus membuatku merasa amat
bersalah.
Ia mengantarkanku pulang
dengan wajah ceria. Berbeda denganku yang sedari tadi memaksakan senyum
untuknya.
“Jangan lupa berdoa ketika kau akan tidur nanti. Aku amat bahagia, terimakasih
sudah mau menjadi pacarku anggi”. Katanya sambil tersenyum.
aku langsung menutup pintu mobilnya dan berlalu.
Berita tentang kejadian
di acara pesta tadi malam langsung menyebar.hanya pada cindy aku berani
menceritakan semuanya. Aku tidak men yayangi Rian,dan sindy berkata aku harus
enjauhinya agar ia tidak terlalu berharap besar terhadapku. Dan aku mengikuti
sarannya.
Aku mulai menjauhinya.
Tak menghiraukan semua pesan yang ia kirimkan ke handphoneku.Bahkan aku berkata
pada omma agar tidak memberitaukan papa. Aku takut papa akan marah dan kecewa
padaku.
6 bulan
kemudian,akhirnya aku memberanikan diri untuk bicara.
“Rian,aku tidak menyukaimu. Maafkan aku”. Kataku menduduk tak berani melihat wajahnya.
“aku tau,”kata rian sambil tersenyum menenangkanku. “aku tau kau tak pernah
menyukaiku sejak pertama kali kita bertemu. Aku tau kau menyukai orang lain,dan
itu bukan aku. Maaf karna aku terlalu egois,selama ini aku terus berusaha
membuatmu menyukaiku. Aku tau itu tak akan pernah berhasil,kau terlalu sempurna
untukku. Orang sepertiku memang tak akan pernah bisa membuatmu bahagia. Maafkan
aku.” Ia meneteskan air mata. Dan itu membuatku semakin bersalah.
“Aku ingin kita cukup sampai disini saja. Bisakah??” tanyaku.
“Walau kau terus menyakitiku akan ku terima. Tapi bisakah kau jangan pergi dan
tetap disisiku?? Aku berjanji akan membahagiakanmu. Aku akan menjadi seperti
orang yang kau suka. Aku akan belajar seperti Reza,aku akan memainkan musik
untukmu.” … “jangan tinggalkan aku, aku berjanji akan membuatmu suka padaku.
Aku akan berusaha”. Ia pun akhirnya menangis.
Dan entah mengapa sejak
saat itu aku mulai menyukainya. Kesabaran dan kekuatannya menyentu hatiku. Aku
berubah,tidakk lagi acuh padanya. Aku sudah mulai peduli. Rian anak yang
baik,ketika aku sakit dan omma sedang keluar kota,dialah yang mengantarkanku
kerumah sakit. Dia mengikutiku dari belakang apabila aku mengikuti perlombaan ekstrakulikuler. Dan dia selalu berjajni
akan menjagaku.
1 tahun kemudian,ketika
Rian berulang tahun dan mengajakku ke rumahnya untuk berkenalan dengan
orangtuanya papa menelfonku.entah ta dari mana papa tau,tapi papa menyuruhku
berkata bahwa berita yang disampaikan salah satu teman dekatnya bahwa aku
sekarang sudah memiliki pacar itu tidak
benar.
“Papa malu, kamu terkenal pendiam oleh semua keluarga atau teman-temanmu. Papa
tidak suka kamu pacaran anggi. Kamu harus focus
belajar. Papa menyekolahkan kamu bukan untuk main-main. Bukan untuk pacaran.
Kamu sudah banyak berbah semenjak tinggal disana. Papa tidak mau tau,kamu
jangan sampai mempermalukan papa!!”
“Aku sudah dewasa papa,” ucapku
“Pulang kau!! Sekarang!!” kau sudah berani membantah. Kau sudah durhaka. Kau bukan
Anggi papa yang dulu!!”.
“Aku pulang papa, papa tidak usah khawatir. Aku akan pulang.” Aku meneteskan
air mataku dan meminta izin agar Rian segera mengantarkanku pulang dengan
alasan omma sedang sakit.
“Maafkan aku anggi” rian berkata padaku sambil meneteskan air mata. “gara-gara
aku kau mendapat banyak masalah.”
“Aku tidak apa-apa,selama aku pulang, jagalah dirimu baik-baik. Aku akan segera
kembali. Papa akan segera mengizinkan dan memaafkanku. Maaf karna aku belum pernah
mengenalkanmu pada kedua orang tuaku. Dan maaf,di hari ulang tahunmu aku member
kado yang buruk.”
“Tak apa, cepatlah kembali.” Katanya sambil menghapus air mata di pipiku. “Kalau
terjadi sesuatu,jangan lupa mengabariku. Aku tak mau kau melewati semuanya
sendiri.”
“Iya,” kataku sambil memaksakan sebuah senyum. “Aku pergi..” mang ujang dan
omma segera menyuruhku masuk dalam mobil.
3 hari aku tak
menghubungi Rian karna semua fasilitas yang di berikan padaku disita. Papa
berencana memindahkanku sekolah, agar aku lebih focus belajar.
Omma pulang dan mendapati
Rian menunggu di depan gerbang. Omma tak mau berkata sepatah katapun. Omma
selalu bilang bahwa aku baik-baik saja dan tak usah mengkhawatirkanku. Tapi ku
yakin Rian tak akan bisa seperti itu. Akhirnya,omma menyuruh Rian menjauhiku
dan menyuruh kami memutuskan hubungan.
Sebulan kemudian,aku
pindah sekolah. Aku yakin Rian sudah mendengarnya. Karna papa sering
kesekolahku yang lama untuk mengurus surat- kepindahanku.
6 bulan kemudian,aku
mendengar kabar bahwa Rian melanjutkan kuliahnya di Luar negri. Aku turut
senang.
Pagi harinya, sebelum berangkat sekolah mama memberikan sepucuk surat padaku.
Aku heran dan langsung membacanya.
Surat itu dari Rian.
“hai, anggi, ini aku.
lama aku tak pernah menengar kabarmu. Aku selalu menunggu di depan gerbang
rumahmu yang dulu setiap hari.menunggumu kembali seperti yang kau janjikan.
sekarang aku sudah lulus,mungkin ketika kamu membaca surat ini aku sudah tidak ada
di sini. Pesawatku sudah berangkat. Anggi, maafkan aku. Selama ini aku banyak
menyusahkanmu. Aku hanya menjadi beban untukmu. Tapi kuharap kita bisa bertemu
lagi.
aku akan belajar. Belajar sungguh-sungguh seperti yang kau minta. Aku akan
mengambil jurusan musik,
anggi, aku akan kembali. Jika aku sudah menjadi orang dan berhasil, aku akan
kembali mencarimu. Tunggulah sampai saat iru tiba.
aku menyayangimu. Hingga waktu berjalan cepat aku akan tetap menyayangimu.”
Begitulah, aku langsung meneteskan air mata ketika membaca suratnya.
“aku akan menunggumu, cepatlah pulang, Rian” kataku.
kemudian mama memanggilku turun karna papa sudah menunggu untuk mengantarkanku
ke sekolah.
TAMAT