Sabtu, 09 Maret 2013

cerpen JANJI KITA by Baiq Laksmi Y.L.


           Namaku anggi. Aku baru menduduki kelas 2 SMA.Dulu,aku sangat dimanja papa dan mama.Tidurpun masih ditemani apabila aku sedang mimpi buruk atau lampu dikamarku padam.Walau aku sudah mempunyai 2 orang adik yang sudah beranjak remaja,namun perhatian papa dan mama tidak pernah berkurang terhadapku.Itu karna sejak menduduki bangku Sekolah Dasar prestasiku tidak pernah mengecewakan.aku selalu mendapat peringkat 3 besar di kelas.Tidak hanya itu,aku sering di ikut sertakan dalam perlombaan musik,melukis,dan beberapa olimpiade MIPA.
           Aku bukan type anak yang pandai bergaul.Tak heran mengapa aku jarang keluar rumah seperti teman-temanku kebanyakan.Teman-temankupun bisa dihitung,bahkan papa dan mama sudah menghafalnya.itu sebabnya papa dan mama memberikan kepercayaan penuh terhadapku.
            Ketika lulus Sekolah Menengah Pertama,aku langsung meminta izin pada papa agar di sekolahkan di luar kota. Dengan berat akhirnya papa mengizinkanku. Dengan syarat aku harus tinggal dengan omma. Akupun menyetujuinya.
             Disekolahku yang baru,aku mendapatkan banyak teman. Entah karna wajahku yang manis orang-orang ingin mendekatiku atau memang tulus ingin berteman denganku. Ommapun senang dan mendukungku. Memberikanku waktu untuk berakhir pekan dengan teman-teman dengan jalan-jalan ke mall atau sekedar nonton ke bioskop. “itu akan menambah pengalamanmu” ucapnya.
              Dan disinilah semuanya bermula. Aku mengenal seorang laki-laki bernama Reza. Dia kakak kelasku. Ketika baru memasuki sekolah ini,dia sudah menduduki kelas 3 SMA. Aku menyukainya karna ia tidak seperti kakak kakak kelasku yang lain. Apabila semua ingin berkenalan denganku maka ia hanya akan mengacuhkanku. Selain itu,ia juga pandai bermain music,sama seperetiku.
               Namun karna aku belum berani berkenalan dengan laki-laki,maka aku hanya dapat memandang wajahnya dari jauh tanpa ada yang mengetahui. Dari sanalah aku mengetahui bahwa Reza adalah anak yang sederhana,baik dan pintar. Dia mendapat kelas exel  di angkatannya.
                Disaat yang sama,aku juga mengenal seorang pria bernama Rian. Dia juga kakak kelasku,namun satu angkatan lebih tinggi dariku. Aku mengenalnya karna kita mengikuti ekstrakulikuler yang sama. Dia lawan dari sifat Reza yang kusuka. Dia sering mengejek ataupun menertawakanku. Rian adalah salah satu cowok populer di sekolahku. Banyak wanita yang menyukainya. Tidak terkecuali teman-temanku.
“aku heran mengapa wanita-wanita bodoh itu menyukaimu” kataku ketika dia dengan sengaja meneriaki namaku dengan sebutan bebek buruk rupa.
“suatu saat kau akan tau aura yang terpancar dari wajahku” ucapnya sambil tertawa dan berlalu.
Aku hanya dapat mengelus dada dan berharap ada sebuah batu raksasa yang menimpa kepalanya agar selamanya ia hilang ingatan dan menjauhiku.
              Sepulang sekolah,aku duduk di bawah pohon dekat gerbang sekolah. Aku menunggu mang ujang,supir ommaku datang.’hh ini sudah 1 jam’ ucapku.tanpa kusadari seseorang telah melempariku dengan batu.
“Aduh,, hey siapa itu??”
tiba-tiba wajah seseorang yang tak ingin ku lihat muncul. “aku, hehee. Sedang apa kau disini?”
“Kau…  mau apa? Sedang apa kau di atas pohon itu?”
“Disana tempat istirahatku”katanya sambil menunjuk sebuah ayunan yang tergantung di atas pohon besar itu.
“Oohh aku semakin heran mengapa teman-temanku amat menyukai orang aneh sepertimu. Apa bagusnya laki-laki yang suka bergelantung di atas pohon. Hahahaa” ucapku. Namun aku langsung terdiam melihat ekspresi wajahnya yang diam tanpa perlawanan. ‘tidak seperti biasanya’ ucapku dalam hati.
“Kau benar, aku memang tidak ada bagusnya. Aku juga heran mengapa gadis-gadis itu menyukaiku. Andai dia tau bagaimana aku sebenarnya maka dia tak akan pernah menginginkanku.”
“ Aku minta maaf, bukan itu maksudku. Aku…” kata-kataku terputus karna tak tau lagi harus berkata apa.
“Ayah dan ibuku sering bertengkar. Mereka tidak menyayangiku. Yang ada dalam fikiran mereka hanya uang. Aku kasihan dengan kedua adikku,mereka kekurangan kasih sayang orangtua. Yang orangtuaku lakukan setiap hari hanya bertengkar.tak jarang papaku sering memukuli mama di depanku dan adik-adikku. Itu membuatku tak tahan berada di rumah dan memilih diam disini.”katanya sambil memaksakan sebuah senyum dari bibirnya.
“Aku… minta maaf..” kataku menundukkan kepala tanda penyesalan.
“Taka apa” katanya sambil tersenyum. Aku sering mengejekmu karna aku merasa kesepian. Temanku tak banyak,aku takut mereka mengetahui keadaanku yang sebenarnya dan menjauhiku. Aku tak tau mengapa harus bercerita padamu.” Ucapnya.
“Oohh taka pa,kau bisa mempercayaiku”. Kataku memaksakan sebuah senyum. Di lain hati,aku merasa kasihan padanya. Ternyata,dibalik kepopulerannya ia menyimpan luka yang amat menyakitinya.
“Kau mau pulang? Mau ku antar? Tunggu,aku akan mengambil mobilku”.
“tidak usah..” kataku cepat. Bersamaan dengan itu,mang ujang datang menjemputku. “Jemputanku sudah datang” kataku.
“Baiklah kalau begitu,hati-hati di jalan…” ucapnya sambil melambaikan tangan dan tersenyum ketika mobil yang kutumpangi berjalan. Di dalam mobil mang ujang meminta maaf karna ia harus mengantarkan istrinya bersalin ke rumah sakit sewaktu akan menjemputku. Dan aku berkata tak akan melaporkannya pada omma.

“Aku pulang…”
“Sudah pulang? Ayo makan.. omma sudah menyiapkan makanan untukmu di meja makan”.ucap omma
“Terima kasih omma..”kataku sembari menuju ke meja makan.
“Tadi ada teman yang mencarimu,manis lhoo.. omma suka melihatnya. Kelihatannya baik.
  apa dia temanmu??”
“Siapa omma??”tanyaku heran sambil menyantap makananku.
“Kalau tidak salah namanya Reza, katanya ada perlu”.
“APA????????”. Semua makanan yang ada dalam mulutku berhamburan keluar.
“Ya ampuun..cucu omma jorok.. cepat bersihkan mulutmu. Itu,dia meninggalkan nomor telfonnya. Omma taruh di atas meja”.
“TERIMA KASIH OMMAAA!!!!!” teriakku sambil memeluk omma yang heran melihat tingkahku.
                   Malamnya aku tidak bisa tidur. Aku menceritakan semua kejadian tadi siang pada sahabat baikku cindy. Cindypun senang dan menyuruhku segera menghubunginya. “siapa tau ada sesuatu yang penting. Ini kesempatan. Cepat hubungi dia..”. “oke oke” jawabku dan mematikan telfon.Baru saja aku mematikan telfon,sebuah message datang dan mengagetkanku.
‘Anggi?’
‘Ya.’ Jawabku singkat.
‘Ini reza. Tadi aku sudah ke rumahmu. Tapi kamu belum pulang dari sekolah.sibuk ada kegiatan?’
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” teriakku membuat omma kaget dan menghampiriku ke kamar.
                 Begitu seterusnya hingga larut malam. Ternyata Reza menghubungiku karna ingin menanyakan tentang kegiatan ekstrakulikuler yang aku ikuti,dan akan meliputnya dalam majalah sekolah. Walau begitu aku merasa sangat senang.
“Hey bebek buruk rupa, kau kelihatan ceria pagi ini”.
hhh dia lagi pikirku. “Jangan rusak hariku”. Kataku ketus sambil berlalu.
“Aku ingin memberimu ini” katanya sambil memberikan sebuah undangan.
“Apa ini?” tanyaku heran.
“Nanti malam ulang tahunku. Datanglah, aku sudah mengundangmu.”
“Nenekku tidak akan  memberiku izin” jawabku asal
“Baiklah,maka akan ku jemput” katanya sambil berlalu begitu saja.”Jam 8.. berdandanlah yang cantik agar tidak mempermalukanku” .
hah?? Apa?? Dia bilang apa??  “Hey.. kau!! Apa kau sebenarnya?? Mengapa begitu menyebalkan?? Aku membencimu!!!!!!!!” kataku berteriak namun ia tidak mempedulikannya.
                 Sesampainya dikelas cindy langsung menghampiriku. “kau kenapa??” tanyanya.
aku hanya cemberut dan rasanya ingin menangis. Aku menceritakan semuanya pada cindy, diapun menyurhku untuk bersabar dan tetap tenang menghadapi laki-laki itu.
malamnya,setelah makan malam buru-buru aku masuk ke dalam kamar dan memberitau omma aku akan belajar.
“Tapi ini kan malam minggu anggi.. temani omma menonton tv..” teriak omma dari bawah.
tapi aku tak menghiraukannya dan lekas naik menuju kamarku.
bbiipp…biipp… lagu a little too not over you berbunyi di hpku.
“Hallo??” jawabku
“Hey bebek buruk rupa,aku sudah di depan rumahmu. Ayo keluar!”.
“Kau meninggalkan pestamu?? Mengapa menjemputku?? Omma tidak mengizinkanku keluar malam ini”.
“Ini ommamu” terdengar Rian memberikan handphonenya pada orang lain.
Hhallo sayang.. temanmu di bawah,, ayo keluar. Katanya kalian ada acara..”.
‘sial’ ucapku dalam hati ‘dasar bebek gila!’. “Hehee iya omma.. anggi turun.”
Dalam perjalanan aku hanya cemberut karna kesal terhadapnya.
“Aku akan menunjukkan sesuatu padamu”.
“Apa?” kataku. “Kau sudah cukup menyusahkanku. Jangan menyusahkanku lebih jauh”.
“Lihat saja nanti.” Ucapnya sambil tersenyum.
                    Sesampainya disana,aku amat terkejut. Semua keluarga dan teman-temannya sudah berkumpul. Bahkan memberikan tepuk tangan yang meriah ketika melihatku dan Rian memasuki ruangan pesta.
“Apa ini??” tanyaku.
“Kejutan untukmu” jawabnya sambil  agar isyarat semua teman-teman dan keluarganya berkumpul. Itu membuatku semakin panik. Tanpa ku sangka, ia berlurtut di hadapanku dan mengatakan “Anggi, would you be my girl friend??”
“Hah????”tanyaku kaget. Seperti petir di siang hari,apa otak anak ini sudah benar-benar gila?? Fikirku.
“Aku tau kau tidak menyukaiku,aku tau perlakuanku terhadapmu amat buruk, tapi izinkan aku menghiasi hidupmu. Agar aku selalu dapat menjagamu.”
“Aku.. aku..” aku tak bisa berkata apa-apa. Aku tak menyukainya, itu benar. Aku menyukai orang lain. Buakn dia!! Tapi akankah aku menolaknya dan mempermalukannya di depan keluarga dan teman-temannya seperti ini??
Dan akhirnya,dengan sangat terpaksa aku menjawab “Ya,aku bersedia”.
dan itu membuatnya terlihat amat bahagia. Sekaligus membuatku merasa amat bersalah.
                 Ia mengantarkanku pulang dengan wajah ceria. Berbeda denganku yang sedari tadi memaksakan senyum untuknya.
“Jangan lupa berdoa ketika kau akan tidur nanti. Aku amat bahagia, terimakasih sudah mau menjadi pacarku anggi”. Katanya sambil tersenyum.
aku langsung menutup pintu mobilnya dan berlalu.
                  Berita tentang kejadian di acara pesta tadi malam langsung menyebar.hanya pada cindy aku berani menceritakan semuanya. Aku tidak men yayangi Rian,dan sindy berkata aku harus enjauhinya agar ia tidak terlalu berharap besar terhadapku. Dan aku mengikuti sarannya.
                   Aku mulai menjauhinya. Tak menghiraukan semua pesan yang ia kirimkan ke handphoneku.Bahkan aku berkata pada omma agar tidak memberitaukan papa. Aku takut papa akan marah dan kecewa padaku.
                  6 bulan kemudian,akhirnya aku memberanikan diri untuk bicara.
“Rian,aku tidak menyukaimu. Maafkan aku”. Kataku menduduk tak berani melihat wajahnya.
“aku tau,”kata rian sambil tersenyum menenangkanku. “aku tau kau tak pernah menyukaiku sejak pertama kali kita bertemu. Aku tau kau menyukai orang lain,dan itu bukan aku. Maaf karna aku terlalu egois,selama ini aku terus berusaha membuatmu menyukaiku. Aku tau itu tak akan pernah berhasil,kau terlalu sempurna untukku. Orang sepertiku memang tak akan pernah bisa membuatmu bahagia. Maafkan aku.” Ia meneteskan air mata. Dan itu membuatku semakin bersalah.
“Aku ingin kita cukup sampai disini saja. Bisakah??” tanyaku.
“Walau kau terus menyakitiku akan ku terima. Tapi bisakah kau jangan pergi dan tetap disisiku?? Aku berjanji akan membahagiakanmu. Aku akan menjadi seperti orang yang kau suka. Aku akan belajar seperti Reza,aku akan memainkan musik untukmu.” … “jangan tinggalkan aku, aku berjanji akan membuatmu suka padaku. Aku akan berusaha”. Ia pun akhirnya menangis.
               Dan entah mengapa sejak saat itu aku mulai menyukainya. Kesabaran dan kekuatannya menyentu hatiku. Aku berubah,tidakk lagi acuh padanya. Aku sudah mulai peduli. Rian anak yang baik,ketika aku sakit dan omma sedang keluar kota,dialah yang mengantarkanku kerumah sakit. Dia mengikutiku dari belakang apabila aku mengikuti perlombaan ekstrakulikuler. Dan dia selalu berjajni akan menjagaku.
              1 tahun kemudian,ketika Rian berulang tahun dan mengajakku ke rumahnya untuk berkenalan dengan orangtuanya papa menelfonku.entah ta dari mana papa tau,tapi papa menyuruhku berkata bahwa berita yang disampaikan salah satu teman dekatnya bahwa aku sekarang sudah memiliki pacar  itu tidak benar.
“Papa malu, kamu terkenal pendiam oleh semua keluarga atau teman-temanmu. Papa tidak suka kamu pacaran anggi. Kamu harus focus belajar. Papa menyekolahkan kamu bukan untuk main-main. Bukan untuk pacaran. Kamu sudah banyak berbah semenjak tinggal disana. Papa tidak mau tau,kamu jangan sampai mempermalukan papa!!”
“Aku sudah dewasa papa,” ucapku
“Pulang kau!! Sekarang!!” kau sudah berani membantah. Kau sudah durhaka. Kau bukan Anggi papa yang dulu!!”.
“Aku pulang papa, papa tidak usah khawatir. Aku akan pulang.” Aku meneteskan air mataku dan meminta izin agar Rian segera mengantarkanku pulang dengan alasan omma sedang sakit.
“Maafkan aku anggi” rian berkata padaku sambil meneteskan air mata. “gara-gara aku kau mendapat banyak masalah.”
“Aku tidak apa-apa,selama aku pulang, jagalah dirimu baik-baik. Aku akan segera kembali. Papa akan segera mengizinkan dan memaafkanku. Maaf karna aku belum pernah mengenalkanmu pada kedua orang tuaku. Dan maaf,di hari ulang tahunmu aku member kado yang buruk.”
“Tak apa, cepatlah kembali.” Katanya sambil menghapus air mata di pipiku. “Kalau terjadi sesuatu,jangan lupa mengabariku. Aku tak mau kau melewati semuanya sendiri.”
“Iya,” kataku sambil memaksakan sebuah senyum. “Aku pergi..” mang ujang dan omma segera menyuruhku masuk dalam mobil.
                3 hari aku tak menghubungi Rian karna semua fasilitas yang di berikan padaku disita. Papa berencana memindahkanku sekolah, agar aku lebih focus belajar.
             Omma pulang dan mendapati Rian menunggu di depan gerbang. Omma tak mau berkata sepatah katapun. Omma selalu bilang bahwa aku baik-baik saja dan tak usah mengkhawatirkanku. Tapi ku yakin Rian tak akan bisa seperti itu. Akhirnya,omma menyuruh Rian menjauhiku dan menyuruh kami memutuskan hubungan.
               Sebulan kemudian,aku pindah sekolah. Aku yakin Rian sudah mendengarnya. Karna papa sering kesekolahku yang lama untuk mengurus surat- kepindahanku.
                 6 bulan kemudian,aku mendengar kabar bahwa Rian melanjutkan kuliahnya di Luar negri. Aku turut senang.
Pagi harinya, sebelum berangkat sekolah mama memberikan sepucuk surat padaku. Aku heran dan langsung membacanya.
Surat itu dari Rian.
“hai, anggi, ini aku.
lama aku tak pernah menengar kabarmu. Aku selalu menunggu di depan gerbang rumahmu yang dulu setiap hari.menunggumu kembali seperti yang kau janjikan.
sekarang aku sudah lulus,mungkin ketika kamu membaca surat ini aku sudah tidak ada di sini. Pesawatku sudah berangkat. Anggi, maafkan aku. Selama ini aku banyak menyusahkanmu. Aku hanya menjadi beban untukmu. Tapi kuharap kita bisa bertemu lagi.
aku akan belajar. Belajar sungguh-sungguh seperti yang kau minta. Aku akan mengambil jurusan musik,
anggi, aku akan kembali. Jika aku sudah menjadi orang dan berhasil, aku akan kembali mencarimu. Tunggulah sampai saat iru tiba.
aku menyayangimu. Hingga waktu berjalan cepat aku akan tetap menyayangimu.”

Begitulah, aku langsung meneteskan air mata ketika membaca suratnya.
“aku akan menunggumu, cepatlah pulang, Rian” kataku.
kemudian mama memanggilku turun karna papa sudah menunggu untuk mengantarkanku ke sekolah.


                                                                          TAMAT

                                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar