Assalamu'alaikum kali ini kita akan membahas tentang teman yang egois .
Berhati-hati lah dengan teman yang egois, kenapa??? karna mereka hanya akan memanfaatkanmu .
adapun teman dikatakan egois apabila dia memiliki sifat:
1. hanya ada pada saat kita bahagia
2. tidak perduli dengan kesusahan kita
3. dia akan seenaknya menyakiti kita dan bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa
4. dia akan meluapkan kekesalannya kepada kita
5. hanya memanfaatkan kelebihan yang kita punya
nah, sekarang sudah tau kan ciri-ciri dari teman yang egois, teman seperti itu patut kita jauhi karna hanya akan merugikan diri kita sendiri . ini dari pengalaman pribadi saya ya , bagi yang merasa ini kurang tepat mohon di maklumi :)
terima kasih
blog ini sebagai tempat curahan hati saya :) silahkan ambil hal yang baik dan abaikan hal yang buruk . thank you
Selasa, 19 Maret 2013
Senin, 11 Maret 2013
LIRIK IT WILL RAIN by BRUNO MARS
If you ever leave me, baby,
Leave some morphine at my door
'Cause it would take a whole lot of medication
To realize what we used to have,
We don't have it anymore.
There's no religion that could save me
No matter how long my knees are on the floor (Ooh)
So keep in mind all the sacrifices I'm makin'
To keep you by my side
To keep you from walkin' out the door.
'Cause there'll be no sunlight
If I lose you, baby
There'll be no clear skies
If I lose you, baby
Just like the clouds
My eyes will do the same, if you walk away
Everyday it'll rain, rain, ra-a-a-ain
I'll never be your mother's favorite
Your daddy can't even look me in the eye
Ooh, if I was in their shoes, I'd be doing the same thing
Sayin' "There goes my little girl
Walkin' with that troublesome guy"
But they're just afraid of something they can't understand
Ooh, but little darlin' watch me change their minds
Yeah for you I'll try, I'll try, I'll try, I'll try
I'll pick up these broken pieces 'til I'm bleeding
If that'll make you mine
'Cause there'll be no sunlight
If I lose you, baby
There'll be no clear skies
If I lose you, baby
Just like the clouds
My eyes will do the same, if you walk away
Everyday it'll rain, rain, ra-a-a-ain
Oh, don't you say (don't you say) goodbye (goodbye),
Don't you say (don't you say) goodbye (goodbye)
I'll pick up these broken pieces 'til I'm bleeding
If that'll make it right
'Cause there'll be no sunlight
If I lose you, baby
There'll be no clear skies
If I lose you, baby
And just like the clouds
My eyes will do the same, if you walk away
Everyday it'll rain, rain, ra-a-a-ain
Leave some morphine at my door
'Cause it would take a whole lot of medication
To realize what we used to have,
We don't have it anymore.
There's no religion that could save me
No matter how long my knees are on the floor (Ooh)
So keep in mind all the sacrifices I'm makin'
To keep you by my side
To keep you from walkin' out the door.
'Cause there'll be no sunlight
If I lose you, baby
There'll be no clear skies
If I lose you, baby
Just like the clouds
My eyes will do the same, if you walk away
Everyday it'll rain, rain, ra-a-a-ain
I'll never be your mother's favorite
Your daddy can't even look me in the eye
Ooh, if I was in their shoes, I'd be doing the same thing
Sayin' "There goes my little girl
Walkin' with that troublesome guy"
But they're just afraid of something they can't understand
Ooh, but little darlin' watch me change their minds
Yeah for you I'll try, I'll try, I'll try, I'll try
I'll pick up these broken pieces 'til I'm bleeding
If that'll make you mine
'Cause there'll be no sunlight
If I lose you, baby
There'll be no clear skies
If I lose you, baby
Just like the clouds
My eyes will do the same, if you walk away
Everyday it'll rain, rain, ra-a-a-ain
Oh, don't you say (don't you say) goodbye (goodbye),
Don't you say (don't you say) goodbye (goodbye)
I'll pick up these broken pieces 'til I'm bleeding
If that'll make it right
'Cause there'll be no sunlight
If I lose you, baby
There'll be no clear skies
If I lose you, baby
And just like the clouds
My eyes will do the same, if you walk away
Everyday it'll rain, rain, ra-a-a-ain
Minggu, 10 Maret 2013
PEMUDA HARAPAN ISLAM
Al-Quran banyak mengisahkan perjuangan para Nabi
dan Rasul a.s yang kesemuanya adalah orang-orang terpilih daripada kalangan
pemuda yang berusia sekitar empat puluhan. Bahkan ada diantara mereka yang
telah diberi kemampuan untuk berdepat dan berdialog sebelum umurnya genab 18
tahun. Berkata Ibnu Abbas r.a. “Tak ada seorang nabi pun yang diutus Allah,
melainkan ia dipilih di kalangan pemuda sahaja (yakni 30-40 tahun). Begitu pula
tidak seorang ‘Alim pun yang diberi ilmu, melainkan ia (hanya) dari kalangan
pemuda”. Kemudian Ibnu Abbas membaca firman Allah swt: “Mereka berkata: Kami
dengan ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama
Ibrahim: Qs. Al Anbiyaa:60, Tafsir Ibnu Katsir III/183).
Tentang Nabi Ibrahim, Al-Quran lebih jauh menceritakan bahawa beliau telah berdebat dengan kaumnya, menentang peribadatan mereka kepada patung-patung. Saat itu beliau belum dewasa. Sebagaimana firman-Nya: “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Ibrahim kepandaian sejak dahulu (sebelum mencapai remajanya) dan Kami lenal kemahirannya. Ketika dia berkata:’Sungguh kalian dan bapak-bapak kalian dalam kesesatan yang nyata’. Mereka menjawab:’ Apakah engkau membawa kebenaran kepada kami, ataukah engkau seorang yang bermain-main sahaja? Dia berkata: Tidak! Tuhan kamu adalah yang memiliki langit dan bumi yang diciptakan oleh-Nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu”. Qs. Al Anbiyaa:51-56.
Perlu ditekankan bahawa para Nabi a.s itu hanya diutus untuk mengubah keadaan, sehingga setiap Nabi yang diutus adalah orang-orang terpilih dan hanya daripada kalangan pemuda (syabab) sahaja. Bahkan kebanyakan daripada pengikut mereka daripada kalangan pemuda juga (meskipun begitu ada juga pengikut mereka itu terdiri daripada mereka yang sudah tua dan juga yang masih kanak-kanak. “Ashabul Kahfi”, yang tergolong sebagai pengikut nabi Isa a.s adalah sekelompok adalah sekelompok anak-anak muda yang usianya masih muda lagi yang mana mereka telah menolak untuk kembali keagama nenek moyang mereka yakni menyembah selain Allah. Disebabkan bilangan mereka yang sedikit (hanya tujuh orang), mereka telah bermuafakat untuk mengasingkan diri daripada masyarakat dan berlindung di dalam sebuah gua. Fakta ini diperkuatkan oleh Al-Quran di dalam surah Al-Kahfi ayat 9-26, diantaranya: “(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat perlindungan (gua) lalu berdoa: ‘Wahai uhan kami berikanlah rahmat depada kami dari sisi-Mu dan tolonglah kami dalam menempuh langkah yang tepat dalam urusan kami (ini) (10)…Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad saw) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka (Sang Pencipta) dan Kami beri mereka tambahan pimpinan (iman, taqwa, ketetapan hati dan sebagainya) (13).
Junjungan kita Nabi Muhammad saw diangkat menjadi Rasul tatkala baginda berumur 40 tahun. Pengikut-pengikut baginda pada generasi pertama kebanyakannya juga daripada kalangan pemuda, bahkan ada yang masih kecil. Usia para pemuda Islam yang dibina pertama kali oleh Rasulullah saw di Daarul Arqaam pada tahap pembinaan, adalah sebagai berikut: yang paling muda adalah 8 tahun, iaitu Ali bin Abi Thalib dan Az-Zubair bin Al-Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, 11 tahun, Al Arqaam bin Abil Arqaam 12 tahun, Abdullah bin Mazh’un berusia 17 tahun, Ja’far bin Abi Thalib 18 tahun, Qudaamah bin Abi Mazh’un berusia 19 tahun, Said bin Zaid dan Shuhaib Ar Rumi berusia dibawah 20 tahun, ‘Aamir bin Fahirah 23 tahun, Mush’ab bin ‘Umair dan Al Miqdad bin al Aswad berusia 24 tahun, Abdullah bin al Jahsy 25 tahun, Umar bin al Khathab 26 tahun, Abu Ubaidah Ibnuk Jarrah dan ‘Utbah bin Rabi’ah, ‘Amir bin Rabiah, Nu’aim bin Abdillah, ‘ Usman bin Mazh’un, Abu Salamah, Abdurrahman bin Auf dimana kesemuanya sekitar 30 tahun, Ammar bin Yasir diantara 30-40 tahun, Abu Bakar Ash Shiddiq 37 tahun. Hamzah bin Abdul Muththalib 42 tahun dan ‘Ubaidah bin Al Harith yang paling tua diantara mereka iaitu 50 tahun.
Malah ratusan ribu lagi para pejuang Islam yang terdiri daripada golongan pemuda. Mereka memperjuangkan dakwah Islam, menjadi pembawa panji-panji Islam, serta merekalah yang akan kedepan menjadi benteng pertahanan ataupun serangan bagi bala tentera Islam dimasa nabi ataupun sesudah itu. Mereka secara keseluruhannya adalah daripada kalangan pemuda, bahkan ada diantara mereka adalah remaja yang belum atau baru dewasa. Usamah bin Zaid dianggat oleh Nabi saw sebagai komander untuk memimpin pasukan kaum muslimin menyerbu wilayah Syam (saat itu merupakan wilayah Rom) dalam usia 18 tahun. Padahal diantara prajuritnya terdapat orang yang lebih tua daripada Usamah, seperti Abu Bakar, Umar bin Khathab dan lain-lainnya. Abdullah bin Umar pula telah memiliki semangat juang yang bergelora umntuk berperang sejak berumur 13 tahun. Ketika Rasulullah saw sedang mempersiapkan barisan pasukan pada perang Badar, Ibnu Umar bersama al Barra’ datang kepada baginda seraya meminta agar diterima sebagai prajurit. Saat itu Rasulullah saw menolak kedua pemuda kecil itu. Tahun berikutnya, pada perang Uhud, keduanya datang lagi, tapi yang diterima hanya Al barra’. Dan pada perang Al Ahzab barulah Nabi menerima Ibnu Umar sebagai anggota pasukan kaum muslimin (Shahih Bukhari VII/266 dan 302).
Terdapat satu peristiwa yang sangat menarik untuk renungan para pemuda di zaman ini. Peristiwa ini selengkapnnya diceritakan oleh Abdurrahman bin Auf: “Selagi aku berdiri di dalam barisan perang Badar, aku melihat kekanan dan kekiri ku. Saat itu tampaklah olehku dua orang Anshar yang masih muda belia. Aku berharap semoga aku lebih kuat daripada mereka. Tiba-tiba salah seorang daripada mereka menekanku sambil berkata: ‘Wahai pakcik apakah engkau mengenal Abu Jahal ?’ Aku menjawab: ‘Ya, apakah keperluanmu padanya, wahai anak saudara ku ?’ Dia menjawab: ‘ Ada seorang memberitahuku bahawa Abu Jahal ini sering mencela Rasulullah saw. Demi (Allah) yang jiwaku ada ditangan-Nya, jika aku menjumpainya tentulah tak kan kulepaskan dia sampai siapa yang terlebih dulu mati antara aku dengan dia!” Berkata Abdurrahman bin Auf: ‘Aku merasa hairan ketika mendengarkan ucapan anak muda itu’. Kemudian anak muda yang satu lagi menekan ku pula dan berkata seperti temannya tadi. Tidak lama berselang daripada itu aku pun melihat Abu Jahal mundar dan mandir di dalam barisannya, maka segera aku khabarkan (kepada dua anak muda itu): ‘Itulah orang yang sedang kalian cari.”
Keduanya langsung menyerang Abu Jahal, menikamnya denga pedang sampai tewas. Setelah itu mereka menghampiri Rasulullah saw(dengan rasa bangga) melaporkkan kejadian itu. Rasulullah berkata: ‘Siapa di anara kalian yang menewaskannya?’ Masing-masing menjawab: ‘sayalah yang membunuhnya’. Lalu Rasulullah bertanya lagi: ‘Apakah kalian sudah membersihkan mata pedang kalian?’ ‘Belum’ jawab mereka serentak. Rasulullah pun kemudian melihat pedang mereka, seraya bersabda: ‘Kamu berdua telah membunhnya. Akan tetapi segala pakaian dan senajta yang dipakai Abu Jahal(boleh) dimiliki Mu’adz bin al Jamuh.” (Berkata perawi hadits ini): Kedua pemuda itu adalah Mu’adz bin “afra” dan Mu’adz bin Amru bin Al Jamuh” (Lihat Musnad Imam Ahmad I/193 . Sahih bukhari Hadits nomor 3141 dan Sahih Muslim hadits nombor 1752.
Pemuda seperti itulah yang sanggup memikul beban dakwah serta menghadapi berbagai cobaan dengan penuh kesabaran. Allah SWT berfirman: “Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama beliau, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan merekalah orang -orang yang memperoleh berbagai kebaikan dan merekalah orang-oang yang beruntung .(QS At Taubah: 88)
Raulullah SAW menjanjikan bahawa Islampun akan menguasai dunia seperti sabdanya: “Sesungguhn;ya Allah SWT telah memberikan bagiku dunia ini, baik ufuk Timur maupun Barat. Dan kekuasaan umatku sampai kepada apa yang telah diberikan kepadaku dari dunia ini. “HR Muslim VIII/hadits no. 17771. Abu Daud hadits no 4252. Tirmidzi II/27. Ibnu Majah hadits no 2952 dan Ahmad V/278-284).
Tentang Nabi Ibrahim, Al-Quran lebih jauh menceritakan bahawa beliau telah berdebat dengan kaumnya, menentang peribadatan mereka kepada patung-patung. Saat itu beliau belum dewasa. Sebagaimana firman-Nya: “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Ibrahim kepandaian sejak dahulu (sebelum mencapai remajanya) dan Kami lenal kemahirannya. Ketika dia berkata:’Sungguh kalian dan bapak-bapak kalian dalam kesesatan yang nyata’. Mereka menjawab:’ Apakah engkau membawa kebenaran kepada kami, ataukah engkau seorang yang bermain-main sahaja? Dia berkata: Tidak! Tuhan kamu adalah yang memiliki langit dan bumi yang diciptakan oleh-Nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu”. Qs. Al Anbiyaa:51-56.
Perlu ditekankan bahawa para Nabi a.s itu hanya diutus untuk mengubah keadaan, sehingga setiap Nabi yang diutus adalah orang-orang terpilih dan hanya daripada kalangan pemuda (syabab) sahaja. Bahkan kebanyakan daripada pengikut mereka daripada kalangan pemuda juga (meskipun begitu ada juga pengikut mereka itu terdiri daripada mereka yang sudah tua dan juga yang masih kanak-kanak. “Ashabul Kahfi”, yang tergolong sebagai pengikut nabi Isa a.s adalah sekelompok adalah sekelompok anak-anak muda yang usianya masih muda lagi yang mana mereka telah menolak untuk kembali keagama nenek moyang mereka yakni menyembah selain Allah. Disebabkan bilangan mereka yang sedikit (hanya tujuh orang), mereka telah bermuafakat untuk mengasingkan diri daripada masyarakat dan berlindung di dalam sebuah gua. Fakta ini diperkuatkan oleh Al-Quran di dalam surah Al-Kahfi ayat 9-26, diantaranya: “(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat perlindungan (gua) lalu berdoa: ‘Wahai uhan kami berikanlah rahmat depada kami dari sisi-Mu dan tolonglah kami dalam menempuh langkah yang tepat dalam urusan kami (ini) (10)…Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad saw) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka (Sang Pencipta) dan Kami beri mereka tambahan pimpinan (iman, taqwa, ketetapan hati dan sebagainya) (13).
Junjungan kita Nabi Muhammad saw diangkat menjadi Rasul tatkala baginda berumur 40 tahun. Pengikut-pengikut baginda pada generasi pertama kebanyakannya juga daripada kalangan pemuda, bahkan ada yang masih kecil. Usia para pemuda Islam yang dibina pertama kali oleh Rasulullah saw di Daarul Arqaam pada tahap pembinaan, adalah sebagai berikut: yang paling muda adalah 8 tahun, iaitu Ali bin Abi Thalib dan Az-Zubair bin Al-Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, 11 tahun, Al Arqaam bin Abil Arqaam 12 tahun, Abdullah bin Mazh’un berusia 17 tahun, Ja’far bin Abi Thalib 18 tahun, Qudaamah bin Abi Mazh’un berusia 19 tahun, Said bin Zaid dan Shuhaib Ar Rumi berusia dibawah 20 tahun, ‘Aamir bin Fahirah 23 tahun, Mush’ab bin ‘Umair dan Al Miqdad bin al Aswad berusia 24 tahun, Abdullah bin al Jahsy 25 tahun, Umar bin al Khathab 26 tahun, Abu Ubaidah Ibnuk Jarrah dan ‘Utbah bin Rabi’ah, ‘Amir bin Rabiah, Nu’aim bin Abdillah, ‘ Usman bin Mazh’un, Abu Salamah, Abdurrahman bin Auf dimana kesemuanya sekitar 30 tahun, Ammar bin Yasir diantara 30-40 tahun, Abu Bakar Ash Shiddiq 37 tahun. Hamzah bin Abdul Muththalib 42 tahun dan ‘Ubaidah bin Al Harith yang paling tua diantara mereka iaitu 50 tahun.
Malah ratusan ribu lagi para pejuang Islam yang terdiri daripada golongan pemuda. Mereka memperjuangkan dakwah Islam, menjadi pembawa panji-panji Islam, serta merekalah yang akan kedepan menjadi benteng pertahanan ataupun serangan bagi bala tentera Islam dimasa nabi ataupun sesudah itu. Mereka secara keseluruhannya adalah daripada kalangan pemuda, bahkan ada diantara mereka adalah remaja yang belum atau baru dewasa. Usamah bin Zaid dianggat oleh Nabi saw sebagai komander untuk memimpin pasukan kaum muslimin menyerbu wilayah Syam (saat itu merupakan wilayah Rom) dalam usia 18 tahun. Padahal diantara prajuritnya terdapat orang yang lebih tua daripada Usamah, seperti Abu Bakar, Umar bin Khathab dan lain-lainnya. Abdullah bin Umar pula telah memiliki semangat juang yang bergelora umntuk berperang sejak berumur 13 tahun. Ketika Rasulullah saw sedang mempersiapkan barisan pasukan pada perang Badar, Ibnu Umar bersama al Barra’ datang kepada baginda seraya meminta agar diterima sebagai prajurit. Saat itu Rasulullah saw menolak kedua pemuda kecil itu. Tahun berikutnya, pada perang Uhud, keduanya datang lagi, tapi yang diterima hanya Al barra’. Dan pada perang Al Ahzab barulah Nabi menerima Ibnu Umar sebagai anggota pasukan kaum muslimin (Shahih Bukhari VII/266 dan 302).
Terdapat satu peristiwa yang sangat menarik untuk renungan para pemuda di zaman ini. Peristiwa ini selengkapnnya diceritakan oleh Abdurrahman bin Auf: “Selagi aku berdiri di dalam barisan perang Badar, aku melihat kekanan dan kekiri ku. Saat itu tampaklah olehku dua orang Anshar yang masih muda belia. Aku berharap semoga aku lebih kuat daripada mereka. Tiba-tiba salah seorang daripada mereka menekanku sambil berkata: ‘Wahai pakcik apakah engkau mengenal Abu Jahal ?’ Aku menjawab: ‘Ya, apakah keperluanmu padanya, wahai anak saudara ku ?’ Dia menjawab: ‘ Ada seorang memberitahuku bahawa Abu Jahal ini sering mencela Rasulullah saw. Demi (Allah) yang jiwaku ada ditangan-Nya, jika aku menjumpainya tentulah tak kan kulepaskan dia sampai siapa yang terlebih dulu mati antara aku dengan dia!” Berkata Abdurrahman bin Auf: ‘Aku merasa hairan ketika mendengarkan ucapan anak muda itu’. Kemudian anak muda yang satu lagi menekan ku pula dan berkata seperti temannya tadi. Tidak lama berselang daripada itu aku pun melihat Abu Jahal mundar dan mandir di dalam barisannya, maka segera aku khabarkan (kepada dua anak muda itu): ‘Itulah orang yang sedang kalian cari.”
Keduanya langsung menyerang Abu Jahal, menikamnya denga pedang sampai tewas. Setelah itu mereka menghampiri Rasulullah saw(dengan rasa bangga) melaporkkan kejadian itu. Rasulullah berkata: ‘Siapa di anara kalian yang menewaskannya?’ Masing-masing menjawab: ‘sayalah yang membunuhnya’. Lalu Rasulullah bertanya lagi: ‘Apakah kalian sudah membersihkan mata pedang kalian?’ ‘Belum’ jawab mereka serentak. Rasulullah pun kemudian melihat pedang mereka, seraya bersabda: ‘Kamu berdua telah membunhnya. Akan tetapi segala pakaian dan senajta yang dipakai Abu Jahal(boleh) dimiliki Mu’adz bin al Jamuh.” (Berkata perawi hadits ini): Kedua pemuda itu adalah Mu’adz bin “afra” dan Mu’adz bin Amru bin Al Jamuh” (Lihat Musnad Imam Ahmad I/193 . Sahih bukhari Hadits nomor 3141 dan Sahih Muslim hadits nombor 1752.
Pemuda seperti itulah yang sanggup memikul beban dakwah serta menghadapi berbagai cobaan dengan penuh kesabaran. Allah SWT berfirman: “Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama beliau, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan merekalah orang -orang yang memperoleh berbagai kebaikan dan merekalah orang-oang yang beruntung .(QS At Taubah: 88)
Raulullah SAW menjanjikan bahawa Islampun akan menguasai dunia seperti sabdanya: “Sesungguhn;ya Allah SWT telah memberikan bagiku dunia ini, baik ufuk Timur maupun Barat. Dan kekuasaan umatku sampai kepada apa yang telah diberikan kepadaku dari dunia ini. “HR Muslim VIII/hadits no. 17771. Abu Daud hadits no 4252. Tirmidzi II/27. Ibnu Majah hadits no 2952 dan Ahmad V/278-284).
Sabtu, 09 Maret 2013
cerpen JANJI KITA by Baiq Laksmi Y.L.
Namaku anggi. Aku baru menduduki
kelas 2 SMA.Dulu,aku sangat dimanja papa dan mama.Tidurpun masih ditemani
apabila aku sedang mimpi buruk atau lampu dikamarku padam.Walau aku sudah
mempunyai 2 orang adik yang sudah beranjak remaja,namun perhatian papa dan mama
tidak pernah berkurang terhadapku.Itu karna sejak menduduki bangku Sekolah
Dasar prestasiku tidak pernah mengecewakan.aku selalu mendapat peringkat 3
besar di kelas.Tidak hanya itu,aku sering di ikut sertakan dalam perlombaan
musik,melukis,dan beberapa olimpiade MIPA.
Aku bukan type anak yang pandai bergaul.Tak heran mengapa aku jarang keluar rumah seperti teman-temanku kebanyakan.Teman-temankupun bisa dihitung,bahkan papa dan mama sudah menghafalnya.itu sebabnya papa dan mama memberikan kepercayaan penuh terhadapku.
Ketika lulus Sekolah Menengah Pertama,aku langsung meminta izin pada papa agar di sekolahkan di luar kota. Dengan berat akhirnya papa mengizinkanku. Dengan syarat aku harus tinggal dengan omma. Akupun menyetujuinya.
Disekolahku yang baru,aku mendapatkan banyak teman. Entah karna wajahku yang manis orang-orang ingin mendekatiku atau memang tulus ingin berteman denganku. Ommapun senang dan mendukungku. Memberikanku waktu untuk berakhir pekan dengan teman-teman dengan jalan-jalan ke mall atau sekedar nonton ke bioskop. “itu akan menambah pengalamanmu” ucapnya.
Dan disinilah semuanya bermula. Aku mengenal seorang laki-laki bernama Reza. Dia kakak kelasku. Ketika baru memasuki sekolah ini,dia sudah menduduki kelas 3 SMA. Aku menyukainya karna ia tidak seperti kakak kakak kelasku yang lain. Apabila semua ingin berkenalan denganku maka ia hanya akan mengacuhkanku. Selain itu,ia juga pandai bermain music,sama seperetiku.
Namun karna aku belum berani berkenalan dengan laki-laki,maka aku hanya dapat memandang wajahnya dari jauh tanpa ada yang mengetahui. Dari sanalah aku mengetahui bahwa Reza adalah anak yang sederhana,baik dan pintar. Dia mendapat kelas exel di angkatannya.
Disaat yang sama,aku juga mengenal seorang pria bernama Rian. Dia juga kakak kelasku,namun satu angkatan lebih tinggi dariku. Aku mengenalnya karna kita mengikuti ekstrakulikuler yang sama. Dia lawan dari sifat Reza yang kusuka. Dia sering mengejek ataupun menertawakanku. Rian adalah salah satu cowok populer di sekolahku. Banyak wanita yang menyukainya. Tidak terkecuali teman-temanku.
“aku heran mengapa wanita-wanita bodoh itu menyukaimu” kataku ketika dia dengan sengaja meneriaki namaku dengan sebutan bebek buruk rupa.
“suatu saat kau akan tau aura yang terpancar dari wajahku” ucapnya sambil tertawa dan berlalu.
Aku hanya dapat mengelus dada dan berharap ada sebuah batu raksasa yang menimpa kepalanya agar selamanya ia hilang ingatan dan menjauhiku.
Sepulang sekolah,aku duduk di bawah pohon dekat gerbang sekolah. Aku menunggu mang ujang,supir ommaku datang.’hh ini sudah 1 jam’ ucapku.tanpa kusadari seseorang telah melempariku dengan batu.
“Aduh,, hey siapa itu??”
tiba-tiba wajah seseorang yang tak ingin ku lihat muncul. “aku, hehee. Sedang apa kau disini?”
“Kau… mau apa? Sedang apa kau di atas pohon itu?”
“Disana tempat istirahatku”katanya sambil menunjuk sebuah ayunan yang tergantung di atas pohon besar itu.
“Oohh aku semakin heran mengapa teman-temanku amat menyukai orang aneh sepertimu. Apa bagusnya laki-laki yang suka bergelantung di atas pohon. Hahahaa” ucapku. Namun aku langsung terdiam melihat ekspresi wajahnya yang diam tanpa perlawanan. ‘tidak seperti biasanya’ ucapku dalam hati.
“Kau benar, aku memang tidak ada bagusnya. Aku juga heran mengapa gadis-gadis itu menyukaiku. Andai dia tau bagaimana aku sebenarnya maka dia tak akan pernah menginginkanku.”
“ Aku minta maaf, bukan itu maksudku. Aku…” kata-kataku terputus karna tak tau lagi harus berkata apa.
“Ayah dan ibuku sering bertengkar. Mereka tidak menyayangiku. Yang ada dalam fikiran mereka hanya uang. Aku kasihan dengan kedua adikku,mereka kekurangan kasih sayang orangtua. Yang orangtuaku lakukan setiap hari hanya bertengkar.tak jarang papaku sering memukuli mama di depanku dan adik-adikku. Itu membuatku tak tahan berada di rumah dan memilih diam disini.”katanya sambil memaksakan sebuah senyum dari bibirnya.
“Aku… minta maaf..” kataku menundukkan kepala tanda penyesalan.
“Taka apa” katanya sambil tersenyum. Aku sering mengejekmu karna aku merasa kesepian. Temanku tak banyak,aku takut mereka mengetahui keadaanku yang sebenarnya dan menjauhiku. Aku tak tau mengapa harus bercerita padamu.” Ucapnya.
“Oohh taka pa,kau bisa mempercayaiku”. Kataku memaksakan sebuah senyum. Di lain hati,aku merasa kasihan padanya. Ternyata,dibalik kepopulerannya ia menyimpan luka yang amat menyakitinya.
“Kau mau pulang? Mau ku antar? Tunggu,aku akan mengambil mobilku”.
“tidak usah..” kataku cepat. Bersamaan dengan itu,mang ujang datang menjemputku. “Jemputanku sudah datang” kataku.
“Baiklah kalau begitu,hati-hati di jalan…” ucapnya sambil melambaikan tangan dan tersenyum ketika mobil yang kutumpangi berjalan. Di dalam mobil mang ujang meminta maaf karna ia harus mengantarkan istrinya bersalin ke rumah sakit sewaktu akan menjemputku. Dan aku berkata tak akan melaporkannya pada omma.
“Aku pulang…”
“Sudah pulang? Ayo makan.. omma sudah menyiapkan makanan untukmu di meja makan”.ucap omma
“Terima kasih omma..”kataku sembari menuju ke meja makan.
“Tadi ada teman yang mencarimu,manis lhoo.. omma suka melihatnya. Kelihatannya baik.
apa dia temanmu??”
“Siapa omma??”tanyaku heran sambil menyantap makananku.
“Kalau tidak salah namanya Reza, katanya ada perlu”.
“APA????????”. Semua makanan yang ada dalam mulutku berhamburan keluar.
“Ya ampuun..cucu omma jorok.. cepat bersihkan mulutmu. Itu,dia meninggalkan nomor telfonnya. Omma taruh di atas meja”.
“TERIMA KASIH OMMAAA!!!!!” teriakku sambil memeluk omma yang heran melihat tingkahku.
Malamnya aku tidak bisa tidur. Aku menceritakan semua kejadian tadi siang pada sahabat baikku cindy. Cindypun senang dan menyuruhku segera menghubunginya. “siapa tau ada sesuatu yang penting. Ini kesempatan. Cepat hubungi dia..”. “oke oke” jawabku dan mematikan telfon.Baru saja aku mematikan telfon,sebuah message datang dan mengagetkanku.
‘Anggi?’
‘Ya.’ Jawabku singkat.
‘Ini reza. Tadi aku sudah ke rumahmu. Tapi kamu belum pulang dari sekolah.sibuk ada kegiatan?’
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” teriakku membuat omma kaget dan menghampiriku ke kamar.
Begitu seterusnya hingga larut malam. Ternyata Reza menghubungiku karna ingin menanyakan tentang kegiatan ekstrakulikuler yang aku ikuti,dan akan meliputnya dalam majalah sekolah. Walau begitu aku merasa sangat senang.
“Hey bebek buruk rupa, kau kelihatan ceria pagi ini”.
hhh dia lagi pikirku. “Jangan rusak hariku”. Kataku ketus sambil berlalu.
“Aku ingin memberimu ini” katanya sambil memberikan sebuah undangan.
“Apa ini?” tanyaku heran.
“Nanti malam ulang tahunku. Datanglah, aku sudah mengundangmu.”
“Nenekku tidak akan memberiku izin” jawabku asal
“Baiklah,maka akan ku jemput” katanya sambil berlalu begitu saja.”Jam 8.. berdandanlah yang cantik agar tidak mempermalukanku” .
hah?? Apa?? Dia bilang apa?? “Hey.. kau!! Apa kau sebenarnya?? Mengapa begitu menyebalkan?? Aku membencimu!!!!!!!!” kataku berteriak namun ia tidak mempedulikannya.
Sesampainya dikelas cindy langsung menghampiriku. “kau kenapa??” tanyanya.
aku hanya cemberut dan rasanya ingin menangis. Aku menceritakan semuanya pada cindy, diapun menyurhku untuk bersabar dan tetap tenang menghadapi laki-laki itu.
malamnya,setelah makan malam buru-buru aku masuk ke dalam kamar dan memberitau omma aku akan belajar.
“Tapi ini kan malam minggu anggi.. temani omma menonton tv..” teriak omma dari bawah.
tapi aku tak menghiraukannya dan lekas naik menuju kamarku.
bbiipp…biipp… lagu a little too not over you berbunyi di hpku.
“Hallo??” jawabku
“Hey bebek buruk rupa,aku sudah di depan rumahmu. Ayo keluar!”.
“Kau meninggalkan pestamu?? Mengapa menjemputku?? Omma tidak mengizinkanku keluar malam ini”.
“Ini ommamu” terdengar Rian memberikan handphonenya pada orang lain.
Hhallo sayang.. temanmu di bawah,, ayo keluar. Katanya kalian ada acara..”.
‘sial’ ucapku dalam hati ‘dasar bebek gila!’. “Hehee iya omma.. anggi turun.”
Dalam perjalanan aku hanya cemberut karna kesal terhadapnya.
“Aku akan menunjukkan sesuatu padamu”.
“Apa?” kataku. “Kau sudah cukup menyusahkanku. Jangan menyusahkanku lebih jauh”.
“Lihat saja nanti.” Ucapnya sambil tersenyum.
Sesampainya disana,aku amat terkejut. Semua keluarga dan teman-temannya sudah berkumpul. Bahkan memberikan tepuk tangan yang meriah ketika melihatku dan Rian memasuki ruangan pesta.
“Apa ini??” tanyaku.
“Kejutan untukmu” jawabnya sambil agar isyarat semua teman-teman dan keluarganya berkumpul. Itu membuatku semakin panik. Tanpa ku sangka, ia berlurtut di hadapanku dan mengatakan “Anggi, would you be my girl friend??”
“Hah????”tanyaku kaget. Seperti petir di siang hari,apa otak anak ini sudah benar-benar gila?? Fikirku.
“Aku tau kau tidak menyukaiku,aku tau perlakuanku terhadapmu amat buruk, tapi izinkan aku menghiasi hidupmu. Agar aku selalu dapat menjagamu.”
“Aku.. aku..” aku tak bisa berkata apa-apa. Aku tak menyukainya, itu benar. Aku menyukai orang lain. Buakn dia!! Tapi akankah aku menolaknya dan mempermalukannya di depan keluarga dan teman-temannya seperti ini??
Dan akhirnya,dengan sangat terpaksa aku menjawab “Ya,aku bersedia”.
dan itu membuatnya terlihat amat bahagia. Sekaligus membuatku merasa amat bersalah.
Ia mengantarkanku pulang dengan wajah ceria. Berbeda denganku yang sedari tadi memaksakan senyum untuknya.
“Jangan lupa berdoa ketika kau akan tidur nanti. Aku amat bahagia, terimakasih sudah mau menjadi pacarku anggi”. Katanya sambil tersenyum.
aku langsung menutup pintu mobilnya dan berlalu.
Berita tentang kejadian di acara pesta tadi malam langsung menyebar.hanya pada cindy aku berani menceritakan semuanya. Aku tidak men yayangi Rian,dan sindy berkata aku harus enjauhinya agar ia tidak terlalu berharap besar terhadapku. Dan aku mengikuti sarannya.
Aku mulai menjauhinya. Tak menghiraukan semua pesan yang ia kirimkan ke handphoneku.Bahkan aku berkata pada omma agar tidak memberitaukan papa. Aku takut papa akan marah dan kecewa padaku.
6 bulan kemudian,akhirnya aku memberanikan diri untuk bicara.
“Rian,aku tidak menyukaimu. Maafkan aku”. Kataku menduduk tak berani melihat wajahnya.
“aku tau,”kata rian sambil tersenyum menenangkanku. “aku tau kau tak pernah menyukaiku sejak pertama kali kita bertemu. Aku tau kau menyukai orang lain,dan itu bukan aku. Maaf karna aku terlalu egois,selama ini aku terus berusaha membuatmu menyukaiku. Aku tau itu tak akan pernah berhasil,kau terlalu sempurna untukku. Orang sepertiku memang tak akan pernah bisa membuatmu bahagia. Maafkan aku.” Ia meneteskan air mata. Dan itu membuatku semakin bersalah.
“Aku ingin kita cukup sampai disini saja. Bisakah??” tanyaku.
“Walau kau terus menyakitiku akan ku terima. Tapi bisakah kau jangan pergi dan tetap disisiku?? Aku berjanji akan membahagiakanmu. Aku akan menjadi seperti orang yang kau suka. Aku akan belajar seperti Reza,aku akan memainkan musik untukmu.” … “jangan tinggalkan aku, aku berjanji akan membuatmu suka padaku. Aku akan berusaha”. Ia pun akhirnya menangis.
Dan entah mengapa sejak saat itu aku mulai menyukainya. Kesabaran dan kekuatannya menyentu hatiku. Aku berubah,tidakk lagi acuh padanya. Aku sudah mulai peduli. Rian anak yang baik,ketika aku sakit dan omma sedang keluar kota,dialah yang mengantarkanku kerumah sakit. Dia mengikutiku dari belakang apabila aku mengikuti perlombaan ekstrakulikuler. Dan dia selalu berjajni akan menjagaku.
1 tahun kemudian,ketika Rian berulang tahun dan mengajakku ke rumahnya untuk berkenalan dengan orangtuanya papa menelfonku.entah ta dari mana papa tau,tapi papa menyuruhku berkata bahwa berita yang disampaikan salah satu teman dekatnya bahwa aku sekarang sudah memiliki pacar itu tidak benar.
“Papa malu, kamu terkenal pendiam oleh semua keluarga atau teman-temanmu. Papa tidak suka kamu pacaran anggi. Kamu harus focus belajar. Papa menyekolahkan kamu bukan untuk main-main. Bukan untuk pacaran. Kamu sudah banyak berbah semenjak tinggal disana. Papa tidak mau tau,kamu jangan sampai mempermalukan papa!!”
“Aku sudah dewasa papa,” ucapku
“Pulang kau!! Sekarang!!” kau sudah berani membantah. Kau sudah durhaka. Kau bukan Anggi papa yang dulu!!”.
“Aku pulang papa, papa tidak usah khawatir. Aku akan pulang.” Aku meneteskan air mataku dan meminta izin agar Rian segera mengantarkanku pulang dengan alasan omma sedang sakit.
“Maafkan aku anggi” rian berkata padaku sambil meneteskan air mata. “gara-gara aku kau mendapat banyak masalah.”
“Aku tidak apa-apa,selama aku pulang, jagalah dirimu baik-baik. Aku akan segera kembali. Papa akan segera mengizinkan dan memaafkanku. Maaf karna aku belum pernah mengenalkanmu pada kedua orang tuaku. Dan maaf,di hari ulang tahunmu aku member kado yang buruk.”
“Tak apa, cepatlah kembali.” Katanya sambil menghapus air mata di pipiku. “Kalau terjadi sesuatu,jangan lupa mengabariku. Aku tak mau kau melewati semuanya sendiri.”
“Iya,” kataku sambil memaksakan sebuah senyum. “Aku pergi..” mang ujang dan omma segera menyuruhku masuk dalam mobil.
3 hari aku tak menghubungi Rian karna semua fasilitas yang di berikan padaku disita. Papa berencana memindahkanku sekolah, agar aku lebih focus belajar.
Omma pulang dan mendapati Rian menunggu di depan gerbang. Omma tak mau berkata sepatah katapun. Omma selalu bilang bahwa aku baik-baik saja dan tak usah mengkhawatirkanku. Tapi ku yakin Rian tak akan bisa seperti itu. Akhirnya,omma menyuruh Rian menjauhiku dan menyuruh kami memutuskan hubungan.
Sebulan kemudian,aku pindah sekolah. Aku yakin Rian sudah mendengarnya. Karna papa sering kesekolahku yang lama untuk mengurus surat- kepindahanku.
6 bulan kemudian,aku mendengar kabar bahwa Rian melanjutkan kuliahnya di Luar negri. Aku turut senang.
Pagi harinya, sebelum berangkat sekolah mama memberikan sepucuk surat padaku. Aku heran dan langsung membacanya.
Surat itu dari Rian.
“hai, anggi, ini aku.
lama aku tak pernah menengar kabarmu. Aku selalu menunggu di depan gerbang rumahmu yang dulu setiap hari.menunggumu kembali seperti yang kau janjikan.
sekarang aku sudah lulus,mungkin ketika kamu membaca surat ini aku sudah tidak ada di sini. Pesawatku sudah berangkat. Anggi, maafkan aku. Selama ini aku banyak menyusahkanmu. Aku hanya menjadi beban untukmu. Tapi kuharap kita bisa bertemu lagi.
aku akan belajar. Belajar sungguh-sungguh seperti yang kau minta. Aku akan mengambil jurusan musik,
anggi, aku akan kembali. Jika aku sudah menjadi orang dan berhasil, aku akan kembali mencarimu. Tunggulah sampai saat iru tiba.
aku menyayangimu. Hingga waktu berjalan cepat aku akan tetap menyayangimu.”
Begitulah, aku langsung meneteskan air mata ketika membaca suratnya.
“aku akan menunggumu, cepatlah pulang, Rian” kataku.
kemudian mama memanggilku turun karna papa sudah menunggu untuk mengantarkanku ke sekolah.
Aku bukan type anak yang pandai bergaul.Tak heran mengapa aku jarang keluar rumah seperti teman-temanku kebanyakan.Teman-temankupun bisa dihitung,bahkan papa dan mama sudah menghafalnya.itu sebabnya papa dan mama memberikan kepercayaan penuh terhadapku.
Ketika lulus Sekolah Menengah Pertama,aku langsung meminta izin pada papa agar di sekolahkan di luar kota. Dengan berat akhirnya papa mengizinkanku. Dengan syarat aku harus tinggal dengan omma. Akupun menyetujuinya.
Disekolahku yang baru,aku mendapatkan banyak teman. Entah karna wajahku yang manis orang-orang ingin mendekatiku atau memang tulus ingin berteman denganku. Ommapun senang dan mendukungku. Memberikanku waktu untuk berakhir pekan dengan teman-teman dengan jalan-jalan ke mall atau sekedar nonton ke bioskop. “itu akan menambah pengalamanmu” ucapnya.
Dan disinilah semuanya bermula. Aku mengenal seorang laki-laki bernama Reza. Dia kakak kelasku. Ketika baru memasuki sekolah ini,dia sudah menduduki kelas 3 SMA. Aku menyukainya karna ia tidak seperti kakak kakak kelasku yang lain. Apabila semua ingin berkenalan denganku maka ia hanya akan mengacuhkanku. Selain itu,ia juga pandai bermain music,sama seperetiku.
Namun karna aku belum berani berkenalan dengan laki-laki,maka aku hanya dapat memandang wajahnya dari jauh tanpa ada yang mengetahui. Dari sanalah aku mengetahui bahwa Reza adalah anak yang sederhana,baik dan pintar. Dia mendapat kelas exel di angkatannya.
Disaat yang sama,aku juga mengenal seorang pria bernama Rian. Dia juga kakak kelasku,namun satu angkatan lebih tinggi dariku. Aku mengenalnya karna kita mengikuti ekstrakulikuler yang sama. Dia lawan dari sifat Reza yang kusuka. Dia sering mengejek ataupun menertawakanku. Rian adalah salah satu cowok populer di sekolahku. Banyak wanita yang menyukainya. Tidak terkecuali teman-temanku.
“aku heran mengapa wanita-wanita bodoh itu menyukaimu” kataku ketika dia dengan sengaja meneriaki namaku dengan sebutan bebek buruk rupa.
“suatu saat kau akan tau aura yang terpancar dari wajahku” ucapnya sambil tertawa dan berlalu.
Aku hanya dapat mengelus dada dan berharap ada sebuah batu raksasa yang menimpa kepalanya agar selamanya ia hilang ingatan dan menjauhiku.
Sepulang sekolah,aku duduk di bawah pohon dekat gerbang sekolah. Aku menunggu mang ujang,supir ommaku datang.’hh ini sudah 1 jam’ ucapku.tanpa kusadari seseorang telah melempariku dengan batu.
“Aduh,, hey siapa itu??”
tiba-tiba wajah seseorang yang tak ingin ku lihat muncul. “aku, hehee. Sedang apa kau disini?”
“Kau… mau apa? Sedang apa kau di atas pohon itu?”
“Disana tempat istirahatku”katanya sambil menunjuk sebuah ayunan yang tergantung di atas pohon besar itu.
“Oohh aku semakin heran mengapa teman-temanku amat menyukai orang aneh sepertimu. Apa bagusnya laki-laki yang suka bergelantung di atas pohon. Hahahaa” ucapku. Namun aku langsung terdiam melihat ekspresi wajahnya yang diam tanpa perlawanan. ‘tidak seperti biasanya’ ucapku dalam hati.
“Kau benar, aku memang tidak ada bagusnya. Aku juga heran mengapa gadis-gadis itu menyukaiku. Andai dia tau bagaimana aku sebenarnya maka dia tak akan pernah menginginkanku.”
“ Aku minta maaf, bukan itu maksudku. Aku…” kata-kataku terputus karna tak tau lagi harus berkata apa.
“Ayah dan ibuku sering bertengkar. Mereka tidak menyayangiku. Yang ada dalam fikiran mereka hanya uang. Aku kasihan dengan kedua adikku,mereka kekurangan kasih sayang orangtua. Yang orangtuaku lakukan setiap hari hanya bertengkar.tak jarang papaku sering memukuli mama di depanku dan adik-adikku. Itu membuatku tak tahan berada di rumah dan memilih diam disini.”katanya sambil memaksakan sebuah senyum dari bibirnya.
“Aku… minta maaf..” kataku menundukkan kepala tanda penyesalan.
“Taka apa” katanya sambil tersenyum. Aku sering mengejekmu karna aku merasa kesepian. Temanku tak banyak,aku takut mereka mengetahui keadaanku yang sebenarnya dan menjauhiku. Aku tak tau mengapa harus bercerita padamu.” Ucapnya.
“Oohh taka pa,kau bisa mempercayaiku”. Kataku memaksakan sebuah senyum. Di lain hati,aku merasa kasihan padanya. Ternyata,dibalik kepopulerannya ia menyimpan luka yang amat menyakitinya.
“Kau mau pulang? Mau ku antar? Tunggu,aku akan mengambil mobilku”.
“tidak usah..” kataku cepat. Bersamaan dengan itu,mang ujang datang menjemputku. “Jemputanku sudah datang” kataku.
“Baiklah kalau begitu,hati-hati di jalan…” ucapnya sambil melambaikan tangan dan tersenyum ketika mobil yang kutumpangi berjalan. Di dalam mobil mang ujang meminta maaf karna ia harus mengantarkan istrinya bersalin ke rumah sakit sewaktu akan menjemputku. Dan aku berkata tak akan melaporkannya pada omma.
“Aku pulang…”
“Sudah pulang? Ayo makan.. omma sudah menyiapkan makanan untukmu di meja makan”.ucap omma
“Terima kasih omma..”kataku sembari menuju ke meja makan.
“Tadi ada teman yang mencarimu,manis lhoo.. omma suka melihatnya. Kelihatannya baik.
apa dia temanmu??”
“Siapa omma??”tanyaku heran sambil menyantap makananku.
“Kalau tidak salah namanya Reza, katanya ada perlu”.
“APA????????”. Semua makanan yang ada dalam mulutku berhamburan keluar.
“Ya ampuun..cucu omma jorok.. cepat bersihkan mulutmu. Itu,dia meninggalkan nomor telfonnya. Omma taruh di atas meja”.
“TERIMA KASIH OMMAAA!!!!!” teriakku sambil memeluk omma yang heran melihat tingkahku.
Malamnya aku tidak bisa tidur. Aku menceritakan semua kejadian tadi siang pada sahabat baikku cindy. Cindypun senang dan menyuruhku segera menghubunginya. “siapa tau ada sesuatu yang penting. Ini kesempatan. Cepat hubungi dia..”. “oke oke” jawabku dan mematikan telfon.Baru saja aku mematikan telfon,sebuah message datang dan mengagetkanku.
‘Anggi?’
‘Ya.’ Jawabku singkat.
‘Ini reza. Tadi aku sudah ke rumahmu. Tapi kamu belum pulang dari sekolah.sibuk ada kegiatan?’
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” teriakku membuat omma kaget dan menghampiriku ke kamar.
Begitu seterusnya hingga larut malam. Ternyata Reza menghubungiku karna ingin menanyakan tentang kegiatan ekstrakulikuler yang aku ikuti,dan akan meliputnya dalam majalah sekolah. Walau begitu aku merasa sangat senang.
“Hey bebek buruk rupa, kau kelihatan ceria pagi ini”.
hhh dia lagi pikirku. “Jangan rusak hariku”. Kataku ketus sambil berlalu.
“Aku ingin memberimu ini” katanya sambil memberikan sebuah undangan.
“Apa ini?” tanyaku heran.
“Nanti malam ulang tahunku. Datanglah, aku sudah mengundangmu.”
“Nenekku tidak akan memberiku izin” jawabku asal
“Baiklah,maka akan ku jemput” katanya sambil berlalu begitu saja.”Jam 8.. berdandanlah yang cantik agar tidak mempermalukanku” .
hah?? Apa?? Dia bilang apa?? “Hey.. kau!! Apa kau sebenarnya?? Mengapa begitu menyebalkan?? Aku membencimu!!!!!!!!” kataku berteriak namun ia tidak mempedulikannya.
Sesampainya dikelas cindy langsung menghampiriku. “kau kenapa??” tanyanya.
aku hanya cemberut dan rasanya ingin menangis. Aku menceritakan semuanya pada cindy, diapun menyurhku untuk bersabar dan tetap tenang menghadapi laki-laki itu.
malamnya,setelah makan malam buru-buru aku masuk ke dalam kamar dan memberitau omma aku akan belajar.
“Tapi ini kan malam minggu anggi.. temani omma menonton tv..” teriak omma dari bawah.
tapi aku tak menghiraukannya dan lekas naik menuju kamarku.
bbiipp…biipp… lagu a little too not over you berbunyi di hpku.
“Hallo??” jawabku
“Hey bebek buruk rupa,aku sudah di depan rumahmu. Ayo keluar!”.
“Kau meninggalkan pestamu?? Mengapa menjemputku?? Omma tidak mengizinkanku keluar malam ini”.
“Ini ommamu” terdengar Rian memberikan handphonenya pada orang lain.
Hhallo sayang.. temanmu di bawah,, ayo keluar. Katanya kalian ada acara..”.
‘sial’ ucapku dalam hati ‘dasar bebek gila!’. “Hehee iya omma.. anggi turun.”
Dalam perjalanan aku hanya cemberut karna kesal terhadapnya.
“Aku akan menunjukkan sesuatu padamu”.
“Apa?” kataku. “Kau sudah cukup menyusahkanku. Jangan menyusahkanku lebih jauh”.
“Lihat saja nanti.” Ucapnya sambil tersenyum.
Sesampainya disana,aku amat terkejut. Semua keluarga dan teman-temannya sudah berkumpul. Bahkan memberikan tepuk tangan yang meriah ketika melihatku dan Rian memasuki ruangan pesta.
“Apa ini??” tanyaku.
“Kejutan untukmu” jawabnya sambil agar isyarat semua teman-teman dan keluarganya berkumpul. Itu membuatku semakin panik. Tanpa ku sangka, ia berlurtut di hadapanku dan mengatakan “Anggi, would you be my girl friend??”
“Hah????”tanyaku kaget. Seperti petir di siang hari,apa otak anak ini sudah benar-benar gila?? Fikirku.
“Aku tau kau tidak menyukaiku,aku tau perlakuanku terhadapmu amat buruk, tapi izinkan aku menghiasi hidupmu. Agar aku selalu dapat menjagamu.”
“Aku.. aku..” aku tak bisa berkata apa-apa. Aku tak menyukainya, itu benar. Aku menyukai orang lain. Buakn dia!! Tapi akankah aku menolaknya dan mempermalukannya di depan keluarga dan teman-temannya seperti ini??
Dan akhirnya,dengan sangat terpaksa aku menjawab “Ya,aku bersedia”.
dan itu membuatnya terlihat amat bahagia. Sekaligus membuatku merasa amat bersalah.
Ia mengantarkanku pulang dengan wajah ceria. Berbeda denganku yang sedari tadi memaksakan senyum untuknya.
“Jangan lupa berdoa ketika kau akan tidur nanti. Aku amat bahagia, terimakasih sudah mau menjadi pacarku anggi”. Katanya sambil tersenyum.
aku langsung menutup pintu mobilnya dan berlalu.
Berita tentang kejadian di acara pesta tadi malam langsung menyebar.hanya pada cindy aku berani menceritakan semuanya. Aku tidak men yayangi Rian,dan sindy berkata aku harus enjauhinya agar ia tidak terlalu berharap besar terhadapku. Dan aku mengikuti sarannya.
Aku mulai menjauhinya. Tak menghiraukan semua pesan yang ia kirimkan ke handphoneku.Bahkan aku berkata pada omma agar tidak memberitaukan papa. Aku takut papa akan marah dan kecewa padaku.
6 bulan kemudian,akhirnya aku memberanikan diri untuk bicara.
“Rian,aku tidak menyukaimu. Maafkan aku”. Kataku menduduk tak berani melihat wajahnya.
“aku tau,”kata rian sambil tersenyum menenangkanku. “aku tau kau tak pernah menyukaiku sejak pertama kali kita bertemu. Aku tau kau menyukai orang lain,dan itu bukan aku. Maaf karna aku terlalu egois,selama ini aku terus berusaha membuatmu menyukaiku. Aku tau itu tak akan pernah berhasil,kau terlalu sempurna untukku. Orang sepertiku memang tak akan pernah bisa membuatmu bahagia. Maafkan aku.” Ia meneteskan air mata. Dan itu membuatku semakin bersalah.
“Aku ingin kita cukup sampai disini saja. Bisakah??” tanyaku.
“Walau kau terus menyakitiku akan ku terima. Tapi bisakah kau jangan pergi dan tetap disisiku?? Aku berjanji akan membahagiakanmu. Aku akan menjadi seperti orang yang kau suka. Aku akan belajar seperti Reza,aku akan memainkan musik untukmu.” … “jangan tinggalkan aku, aku berjanji akan membuatmu suka padaku. Aku akan berusaha”. Ia pun akhirnya menangis.
Dan entah mengapa sejak saat itu aku mulai menyukainya. Kesabaran dan kekuatannya menyentu hatiku. Aku berubah,tidakk lagi acuh padanya. Aku sudah mulai peduli. Rian anak yang baik,ketika aku sakit dan omma sedang keluar kota,dialah yang mengantarkanku kerumah sakit. Dia mengikutiku dari belakang apabila aku mengikuti perlombaan ekstrakulikuler. Dan dia selalu berjajni akan menjagaku.
1 tahun kemudian,ketika Rian berulang tahun dan mengajakku ke rumahnya untuk berkenalan dengan orangtuanya papa menelfonku.entah ta dari mana papa tau,tapi papa menyuruhku berkata bahwa berita yang disampaikan salah satu teman dekatnya bahwa aku sekarang sudah memiliki pacar itu tidak benar.
“Papa malu, kamu terkenal pendiam oleh semua keluarga atau teman-temanmu. Papa tidak suka kamu pacaran anggi. Kamu harus focus belajar. Papa menyekolahkan kamu bukan untuk main-main. Bukan untuk pacaran. Kamu sudah banyak berbah semenjak tinggal disana. Papa tidak mau tau,kamu jangan sampai mempermalukan papa!!”
“Aku sudah dewasa papa,” ucapku
“Pulang kau!! Sekarang!!” kau sudah berani membantah. Kau sudah durhaka. Kau bukan Anggi papa yang dulu!!”.
“Aku pulang papa, papa tidak usah khawatir. Aku akan pulang.” Aku meneteskan air mataku dan meminta izin agar Rian segera mengantarkanku pulang dengan alasan omma sedang sakit.
“Maafkan aku anggi” rian berkata padaku sambil meneteskan air mata. “gara-gara aku kau mendapat banyak masalah.”
“Aku tidak apa-apa,selama aku pulang, jagalah dirimu baik-baik. Aku akan segera kembali. Papa akan segera mengizinkan dan memaafkanku. Maaf karna aku belum pernah mengenalkanmu pada kedua orang tuaku. Dan maaf,di hari ulang tahunmu aku member kado yang buruk.”
“Tak apa, cepatlah kembali.” Katanya sambil menghapus air mata di pipiku. “Kalau terjadi sesuatu,jangan lupa mengabariku. Aku tak mau kau melewati semuanya sendiri.”
“Iya,” kataku sambil memaksakan sebuah senyum. “Aku pergi..” mang ujang dan omma segera menyuruhku masuk dalam mobil.
3 hari aku tak menghubungi Rian karna semua fasilitas yang di berikan padaku disita. Papa berencana memindahkanku sekolah, agar aku lebih focus belajar.
Omma pulang dan mendapati Rian menunggu di depan gerbang. Omma tak mau berkata sepatah katapun. Omma selalu bilang bahwa aku baik-baik saja dan tak usah mengkhawatirkanku. Tapi ku yakin Rian tak akan bisa seperti itu. Akhirnya,omma menyuruh Rian menjauhiku dan menyuruh kami memutuskan hubungan.
Sebulan kemudian,aku pindah sekolah. Aku yakin Rian sudah mendengarnya. Karna papa sering kesekolahku yang lama untuk mengurus surat- kepindahanku.
6 bulan kemudian,aku mendengar kabar bahwa Rian melanjutkan kuliahnya di Luar negri. Aku turut senang.
Pagi harinya, sebelum berangkat sekolah mama memberikan sepucuk surat padaku. Aku heran dan langsung membacanya.
Surat itu dari Rian.
“hai, anggi, ini aku.
lama aku tak pernah menengar kabarmu. Aku selalu menunggu di depan gerbang rumahmu yang dulu setiap hari.menunggumu kembali seperti yang kau janjikan.
sekarang aku sudah lulus,mungkin ketika kamu membaca surat ini aku sudah tidak ada di sini. Pesawatku sudah berangkat. Anggi, maafkan aku. Selama ini aku banyak menyusahkanmu. Aku hanya menjadi beban untukmu. Tapi kuharap kita bisa bertemu lagi.
aku akan belajar. Belajar sungguh-sungguh seperti yang kau minta. Aku akan mengambil jurusan musik,
anggi, aku akan kembali. Jika aku sudah menjadi orang dan berhasil, aku akan kembali mencarimu. Tunggulah sampai saat iru tiba.
aku menyayangimu. Hingga waktu berjalan cepat aku akan tetap menyayangimu.”
Begitulah, aku langsung meneteskan air mata ketika membaca suratnya.
“aku akan menunggumu, cepatlah pulang, Rian” kataku.
kemudian mama memanggilku turun karna papa sudah menunggu untuk mengantarkanku ke sekolah.
TAMAT
Langganan:
Postingan (Atom)